Kehinaanku adalah KemuliaanMu
Kehilanganku adalah KerinduanMu
Ketiadaanku adalah KeabadianMu
Kepedihanku adalah CintaMu
Kekuranganku adalah KelebihanMu
Kesendirianku adalah pertemuanku denganMu
Kematianku adalah kebangkitanMu
Kebisuanku adalah TitahMu
Aku adalah Kamu, Kamu adalah Aku...
Rabu, 28 April 2010
Rabu, 23 April 2008
Taubat...

Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka,maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.Begitulah caranya!Jika engkau hanya mampu merangkak,maka merangkaklah kepada-Nya! Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,maka tetaplah persembahkan doamuyang kering, munafik dan tanpa keyakinan;karena Tuhan, dengan rahmat-Nyaakan tetap menerima mata uang palsumu! Jika engkau masih mempunyaiseratus keraguan mengenai Tuhan,maka kurangilahmenjadi sembilan puluh sembilan saja.Begitulah caranya! Wahai pejalan!Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,ayolah datang, dan datanglah lagi! Karena Tuhan telah berfirman:"Ketika engkau melambung ke angkasaataupun terpuruk ke dalam jurang,ingatlah kepada-Ku,karena Aku-lah jalan itu." Wallahu `alam, Semoga bermanfaat.
Senin, 05 November 2007
Raja dan budak.....
PENDURHAKA dan orang suci, orang yang taat dan orang ingkar, setan dan malaikat, sesungguhnya sama-sama sedang melakukan penghambaan kepada Tuhan.
Penjelasannya bisa meng-analogikan tentang sorang raja yang sedang berhasrat untuk menguji budak-budaknya. Ia ingin memilah mana budak yang taat, dan mana budak yang ingkar juga mana budak yang beriman dan mana yang penghianat, agar raja bisa memilahkan budak-budaknya. Bagaimana raja menetapkan golongan budak-budaknya?
Si penghasut, bertindak sebagai budak raja, dan melakukan apa-apa yang raja perintahkan.
Sebagaimana juga, raja memerintahkan budak perempuannya untuk berhias secantik mungkin. Setelah itu, dia disuruh keluar dan meperlihatkan diri untuk menggoda budak-budak laki-laki.
Hal itu dilakukan untuk mengetahui siapa diantara para budak yang layak dipercaya dan siapa yang menjadi penghianat. Meskipun prilaku budak perempuan itu jika dilihat dari luar merupakan penghianatan pada sang raja, tapi pada hakikatnya tidak.
Semua yang diperbuat oleh budak itu adalah penghambaa kepada raja.
Bingung kan? bingung melulu....
Penjelasannya bisa meng-analogikan tentang sorang raja yang sedang berhasrat untuk menguji budak-budaknya. Ia ingin memilah mana budak yang taat, dan mana budak yang ingkar juga mana budak yang beriman dan mana yang penghianat, agar raja bisa memilahkan budak-budaknya. Bagaimana raja menetapkan golongan budak-budaknya?
Si penghasut, bertindak sebagai budak raja, dan melakukan apa-apa yang raja perintahkan.
Sebagaimana juga, raja memerintahkan budak perempuannya untuk berhias secantik mungkin. Setelah itu, dia disuruh keluar dan meperlihatkan diri untuk menggoda budak-budak laki-laki.
Hal itu dilakukan untuk mengetahui siapa diantara para budak yang layak dipercaya dan siapa yang menjadi penghianat. Meskipun prilaku budak perempuan itu jika dilihat dari luar merupakan penghianatan pada sang raja, tapi pada hakikatnya tidak.
Semua yang diperbuat oleh budak itu adalah penghambaa kepada raja.
Bingung kan? bingung melulu....
Selasa, 25 September 2007
Ibadah kok cari untung....

Siapa pun yang beribadah kepada Allah karena motivasi kepentingan tertentu dengan harapan dariNya, atau beribadah dalam rangka menolak bencana dari Allah, maka sesungguhnya orang tersebut tidak berpijak dengan benar sesuai SifatNya.
Kenapa demikian?Karena betapa banyaknya orang beribadah kepada Allah tidak didasari keikhlasan (Lillaahi Ta'ala), tetapi demi yang lain, kepentingan duniawi, naiknya jabatan, dagangannya laku, bahkan demi menolak balak dan bencana atau siksa.
Apakah Allah Ta'ala memerintahkan kita melakukan ibadah dan menjauhi laranganNya karena sebuah sebab dan alasan-alasan tertentu?
Bukankah kita beribadah karena kita harus melakukan atau menyambut sifat RububiyahNya melalui sifat Ubudiyah kita?
Bukankah segalanya sudah dijamin Allah, dan segalanya dariNya, bersamaNya, menuju kepadaNya?
Apakah Allah tidak layak disembah, tidak layak menjadi Tuhan, tidak layak diabdi dan diikuti perintah dan laranganNya, manakala Allah tidak menciptakan syurga dan neraka?
Bukankah Rasulullah saw, mengkhabarkan, "Janganlah diantara kalian seperti budak yang buruk, jika tidak diancam ia tak pernah bekerja. Juga jangan seperti pekerja yang buruk, jika tidak diberi upah ia tidak bekerja…."
Dalam kitab Zabur Allah berfirman, "Adakah orang yang lebih zalim dibanding orang yang menyembahKu karena syurga atau takut neraka? Apakah jika Aku tidak menciptakan syurga dan neraka, aku tidak pantas untuk ditaati?"
Suatu hari Junaid Al-Baghdady dibangunkan oleh pamannya sekaligus gurunya, Sary as-Saqathy.
"Ada apa paman?"
"Aku melihat seakan-akan aku ada dihadapan Allah dan Dia berkata kepada saya….Wahai Sary, Aku menciptakan makhluk mereka merasa mencintaiKu. Begitu Aku menciptakan dunia, mereka lari semua dariKu dan tinggal sepuluh persen. Lalu Aku menciptakan syurga, sisa makhluk itu pun lari semua (ke syurga), tinggal satu persen saja. Lalu Aku memberikan cobaan kepada mereka ini, mereka pun lari semua dariKu tinggal 0,9 persen. Aku bicara pada makhlukKu yang tersisa itu yang masih bersamaKu.
"Bukan dunia yang kalian kehendaki, juga bukan syurga yang kalian inginkan, juga bukan neraka yang membuat kalian lari, lantas apa yang kalian mau?"
"Engkau lebih Tahu apa yang kami mau…" jawab mereka.
"Aku hendak memnindihkan bencana cobaan pada kalian sebanyak nafas kalian, yang bisa menghancurkan gunung-gunung, apakah kalian masih bersabar?" TanyaKu pada mereka.
Dan mereka pun menjawab, "Manakala Engkau Sendiri Yang memberi cobaan, lakukanlah sekehendakMu…."
Mereka itulah hamba-hambaKu yang sebenarnya.
Semua ini jadi renungan kita agar dalam setiap niat dan motivasi ibadah kita agar semata hanya menuju Allah, Lillahi Ta'ala, agar kitaterbebas dari penjara kemakhlukan, dan menyatu dalam Musyahadah denganNya. Ikhlas, adalah ruh dari seluruh ibadah kita. Bukan yang lainnya.
Http://www.Sufinews.com
Kamis, 09 Agustus 2007
Hati adalah essensi...

KETIKA sedang berjalan, Musa mendengar seorang gembala sedang memohon kepada Tuhan, dengan menawarkan diri untuk melayani-Nya, untuk menyapu ruangan-Nya, menyisir rambut-Nya, mencuci pakaian dan kaki-Nya, membawakan makanan-Nya, dan mencium tangan-Nya.
Musa memarahi si gembala itu karena keberaniannya dan menganggap tidak sopan dengan do'a-2nya. "Tuhan tidak membutuhkan pelayanan semacam itu darimu!" Si gembala mencabik cabik pakaiannya sambil menangis dan berjalan ke gurun.
Malam itu Tuhan menemui Musa dan memarahinya. "Engkau telah memisahkan hamba-KU dari-Ku. Aku tidak memerintahkan ibadah untuk kepentingan-Ku sendiri, melainkan sebagai kebaikan kepada hamba-Ku. Pujian mereka tidak meng-agungkan-Ku, tetapi memberkati kesucian dan cahaya pada mereka. Aku tidak melihat perkataan mereka, namun ruh dan perasaan mereka. Aku menatap kedalam hati mereka untuk melihat apakah hati mereka indah, karena hati adalah esensi. Aku ingin membakar, membakar! Nyalakan jiwamu dengan api cinta, dan bakarlah semua pikiran dan perkataanmu.
Matsnawi II
Jalaludin Rumi
Kamis, 26 Juli 2007
Do'a....
Setiap manusia yang percaya bahwa ada sesuatu kekuatan yang lebih tinggi (Tuhan) untuk tempatnya bergantung, maka dia melakukan suatu permohonan-2 atau disebut do'a.
Tetapi, permohonan-permohonan atau do'a- do'a manusia itu sifatnya subyektif dia kadang hanya meminta yang baik-2 saja menurut pandangannya dia sendiri, menurut kelompoknya sendiri, atau malah mungkin ada orang yang berdo'a tapi untuk mencelakkan orang lain. Orang-orang seperti ini hanya akan menerima yang baik-2 saja dari Tuhan malah kadang bersuka cita berlebihan tetapi begitu kena musibah, dia tidak ikhlas menerimanya dan juga berduka yang berlebihan atau kadang menyalahkan Tuhan.
Sedangkan yang mempunyai hak mutlak dikabulkannya atau tidak do'a seseorang itu hanyalah ada pada Tuhan, jadi sebenarnya manusia tidak punya hak apa-apa tentang do'a.
Menurut para sufi, justru orang-2 yang dikabulkan do'anya oleh Tuhan itu adalah orang-orang yang tidak pernah meminta apa-apa sama sekali dari Tuhan, bukan berarti orang itu sombong dan tidak butuh apa-apa dari Tuhan. Tetapi, dia adalah orang-orang yang dengan tulus dan ikhlas menerima dan tunduk kepada ketetapan-ketetapan apapun yang Tuhan timpakan kepadanya, apakah dia suka atau tidak, apakah dia senang atau tidak, dia akan dengan senang hati menerimanya karena dia menganggap semua itu layak dia terima dari Tuhan yang dicintainya.
Dengan cara apapun Tuhan membentuku, maka jadilah aku.
Jika Dia menjadikanku Benih, jadilah aku benih.
Jika Dia menjadikanku sebilah pisau, jadilah aku pisau.
Jika Dia menjadikanku sebuah sumber air, maka aku kan memberi air.
Jika Dia menjadikanku api, maka aku akan memberi panas.
Jika Dia menjadikanku anak panah, maka aku akan menembus tubuh.
Jika Dia menjadikanku ular, maka aku akan menghasilkan racun.
Jika Dia menjadikanku sahabat-Nya, maka aku akan melayani-Nya dengan baik.
Aku serupa pena dalam genggaman-Nya yang bergerak sesuai kehendak-Nya.
Rabu, 18 Juli 2007
Agama...

AGAMA adalah sarana untuk mencapai Tuhan, lampaui agama capailah Tuhan.
Ketika manusia hanya berhenti pada agama dan lebih mencintai agama, maka agamalah yang akan lebih diper-tuhankan dan selanjutnya akan menimbulkan arogansi ke-agamaan.
Tetapi, ketika manusia telah melampaui agama dan Tuhan satu-satunya target pencapaian, maka ia akan me-lang-lang ke seluruh alam ciptaan-Nya, ia akan melihat warna-warni ciptaan-Nya dengan senyum ke arifan.
Langganan:
Postingan (Atom)
